JAKARTA-LIPUTANBERITA7. Situasi di Timur Tengah tetap mencekam seiring dengan penolakan Iran terhadap diplomasi Amerika. Ketegangan diperkirakan akan meningkat tajam jika tenggat waktu Trump terlampaui tanpa ada kesepakatan pembukaan jalur laut.
Pemerintah Iran secara resmi menolak usulan gencatan senjata dalam konflik bersenjata melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Senin (6/4/2026). Penolakan ini disampaikan meski Presiden AS Donald Trump telah melontarkan ancaman keras untuk menghancurkan infrastruktur vital Iran.
Dilansir dari Kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan bahwa tanggapan tersebut telah disampaikan kepada Pakistan sebagai perantara. Dalam dokumen yang berisi sepuluh poin utama tersebut, Teheran menegaskan ketidaktertarikan mereka pada penghentian permusuhan sementara.
Iran bersikeras bahwa mereka hanya menginginkan pengakhiran konflik secara definitif, bukan sekadar gencatan senjata. Hal ini menjadi tantangan terbuka bagi Washington yang sebelumnya menawarkan proposal untuk mengakhiri perang.
Kepala Misi Diplomatik Iran di Kairo, Mojtaba Ferdousi Pour, menegaskan posisi negaranya kepada Associated Press. Ia menyatakan bahwa Iran membutuhkan kepastian keamanan jangka panjang.
“Kami tidak akan begitu saja menerima gencatan senjata. Kami hanya menerima pengakhiran perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi,” ujar Ferdousi Pour pada Senin (6/4/2026).















