JAKARTA-LIPUTANBERITA7. Kondisi jalur pelayaran saat ini berada di titik yang sangat memprihatinkan. Berdasarkan laporan panel PBB, jumlah kapal yang melintas merosot tajam dari 130 per hari menjadi hanya enam kapal pada bulan Maret. Dampak kemacetan jalur ini terlihat nyata di perairan Asia Tenggara.
Krisis energi dunia tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat meskipun jalur diplomasi mulai terbuka. Berdasarkan analisis terbaru dari firma konsultan risiko geopolitik Eurasia Group, gangguan pasokan minyak global akibat perang di Iran diprediksi akan terus berlanjut. Meski gencatan senjata di wilayah tersebut nantinya berhasil membuka kembali Selat Hormuz, kerusakan infrastruktur yang masif menjadi penghalang utama normalisasi distribusi energi.
Dilansir dari beritassatu dot com Henning Gloystein, direktur pelaksana di Eurasia Group, menjelaskan bahwa pemulihan tidak bisa terjadi dalam semalam. Ia menyebutkan bahwa perlu waktu berbulan-bulan untuk memperbaiki kilang minyak dan fasilitas energi lainnya di kawasan Teluk Persia yang hancur. Bahkan jika perang berhenti hari ini, sektor logistik masih butuh waktu untuk bernapas kembali.
“Perusahaan pelayaran yang mengoperasikan kapal tanker minyak di wilayah tersebut juga akan membutuhkan setidaknya dua bulan untuk melanjutkan operasi jika perang dihentikan,” tambah Gloystein dalam laporannya dikutip AP, Selasa (7/4/2026).
Kondisi jalur pelayaran saat ini berada di titik yang sangat memprihatinkan. Berdasarkan laporan panel PBB, jumlah kapal yang melintas merosot tajam dari 130 per hari menjadi hanya enam kapal pada bulan Maret. Dampak kemacetan jalur ini terlihat nyata di perairan Asia Tenggara.
Di sisi politik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan adanya secercah harapan melalui negosiasi yang ia sebut berlangsung dengan “niat baik” dari pihak Iran. Namun, Trump menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz adalah prioritas yang sangat besar dan sangat berisiko.















