JAKARTA, LIPUTANBERITA7. Aksi protes muncul di tengah situasi politik Israel yang diperkirakan akan memanas menjelang pemilihan umum yang disebut-sebut akan digelar pada akhir tahun ini.
Selain isu perang dan keamanan, pemerintah Netanyahu juga menghadapi tekanan domestik terkait kebijakan wajib militer, kondisi ekonomi, serta meningkatnya polarisasi politik di masyarakat Israel.
Puluhan warga Israel menggelar aksi demonstrasi di Tel Aviv pada Sabtu (9/5/2026) malam untuk memprotes pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu serta serangan militer yang terus berlanjut di Lebanon selatan.
Aksi demonstrasi berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan politik dan keamanan di Israel, termasuk konflik dengan Iran dan Lebanon serta persoalan internal terkait wajib militer komunitas Yahudi ultra-Ortodoks.
Dilansir dari Reuters Dalam aksi tersebut, para demonstran menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah Netanyahu yang dinilai membawa Israel ke arah yang salah.
“Saya di sini untuk memprotes pemerintah, yang merupakan bencana. Pemerintah kita sedang menuju ke arah yang salah. Mereka memberi makan publik dengan berita palsu, dengan kebohongan, yang semuanya kami tentang,” kata David Alkan (83), seorang pensiunan, kepada Reuters.
Ia juga menyoroti persoalan internal di Israel, khususnya terkait kelompok Yahudi ultra-Ortodoks yang menolak bergabung dengan militer.
“Saya pikir Iran adalah musuh kita, tetapi bukan musuh yang paling berbahaya. Musuh yang paling berbahaya adalah dari dalam negeri, yaitu mereka yang menolak untuk masuk militer, tidak bekerja, tidak membayar pajak, parasit, dan hidup dari pajak penghasilan kita,” tambahnya.















