Scroll untuk baca artikel
HeadlineInternasional

Perang Iran Picu Krisis Biaya Hidup Terparah Warga AS Kehabisan Uang

23
×

Perang Iran Picu Krisis Biaya Hidup Terparah Warga AS Kehabisan Uang

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, LIPUTANBERITA7. Ketegangan perang di Iran telah memperburuk kekhawatiran konsumen terhadap biaya hidup. Senada dengan hal tersebut, CEO Kraft Heinz, Steve Callihane, memberikan gambaran yang lebih kelam mengenai kondisi finansial masyarakat kelas menengah ke bawah. Menurutnya, banyak konsumen yang benar-benar kehabisan uang tunai di akhir bulan dan mengalami arus kas negatif karena harus menggunakan simpanan tabungan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Dalam rangkaian laporan pendapatan terbaru, yang dikutip Fars News, Sabtu (9/5/2026), para CEO dari sektor makanan hingga peralatan rumah tangga menyuarakan kecemasan serupa: konsumen Amerika sedang berjuang keras untuk sekadar bertahan hidup. CEO Whirlpool Corp., Marc Bitzer, mengungkapkan bahwa permintaan konsumen merosot tajam hingga 15% pada kuartal I. Kondisi ini memaksa perusahaan untuk menangguhkan pembagian dividen kepada pemegang saham untuk pertama kalinya dalam tujuh dekade terakhir.

Example 300x600

Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kini telah merambat jauh ke dalam dapur rumah tangga warga Amerika. Krisis biaya hidup yang dipicu oleh perang tersebut telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan, hingga memicu peringatan keras dari para pemimpin perusahaan multinasional terbesar di negara tersebut.

Baca Juga :  Dukung Program Poliran,Kapolres Serang Gelar Ngariung Iman Ngariung Aman Dipeternakan Kelinci

Data ekonomi memang menunjukkan alasan di balik kecemasan tersebut. Sejak perang pecah dua bulan lalu, harga rata-rata bahan bakar di AS melambung dari US$ 3 per galon menjadi US$ 4,55 per galon pada hari Jumat (8/5/2026). Inflasi juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, melompat dari 2,4% pada Februari menjadi 3,3% pada Maret, menggerus nilai pendapatan riil masyarakat.

Ketidakpuasan publik terhadap manajemen ekonomi di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump pun meningkat. Jajak pendapat terbaru dari YouGov menunjukkan bahwa 61% konsumen menyatakan tidak puas dengan penanganan ekonomi pemerintah, angka tertinggi sejak tahun 2022. Meskipun penasihat ekonomi utama Trump, Kevin Hassett, menyebut lonjakan pengeluaran kartu kredit sebagai tanda ekonomi yang “kuat”, para pengamat menilai itu justru pertanda masyarakat mulai berutang untuk menutupi kenaikan harga gas dan kebutuhan pokok.

Di sisi lain, administrasi Trump terus bersikeras bahwa harga-harga akan segera turun setelah perang berakhir. Namun, tanpa kejelasan mengenai kapan konflik tersebut akan mereda, konsumen dan pelaku usaha harus menavigasi musim ekonomi yang sangat tidak stabil. Kondisi ini menempatkan Amerika Serikat dalam posisi yang sulit, di mana ketidakpastian geopolitik di luar negeri secara langsung mengancam stabilitas ekonomi di dalam negeri.

banner 120x600
judi bola sabung ayam online judi bola judi bola sabung ayam online judi bola sabung ayam online sabung ayam online Bnri judi bola sabung ayam sabung ayam sabung ayam