JAKARTA – LIPUTANBERITA7. Presiden AS Donald Trump menyatakan pihaknya tengah melakukan negosiasi, meski tidak memerinci dengan siapa pembicaraan dilakukan. Proposal tersebut disebut disampaikan melalui perantara Pakistan, yang juga menawarkan diri menjadi tuan rumah perundingan.
Iran membantah adanya negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) meski beredar laporan bahwa Teheran telah menerima proposal gencatan senjata 15 poin dari Washington. Situasi ini terjadi di tengah eskalasi konflik AS-Israel dengan Iran.
Informasi mengenai proposal tersebut disampaikan oleh dua pejabat Pakistan pada Rabu (25/3/2026). Namun, pemerintah Iran menegaskan tidak ada pembicaraan resmi yang berlangsung dengan pihak AS.
Proposal gencatan senjata itu disebut mencakup sejumlah poin strategis, seperti pencabutan sanksi, kerja sama nuklir sipil, pembatasan program nuklir Iran, pengawasan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), hingga pembatasan pengembangan rudal.
Selain itu, rencana tersebut juga menyentuh isu akses pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia
Juru bicara militer Iran, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, bahkan menyindir upaya diplomasi Washington.
“Apakah konflik internal Anda telah mencapai titik di mana Anda bernegosiasi dengan diri sendiri?” kata Zolfaghari, dikutip dari AP News.
“Kata pertama dan terakhir kami tetap sama sejak hari pertama, dan akan tetap seperti itu. Orang seperti kami tidak akan pernah berdamai dengan orang seperti Anda,” tegasnya.
Upaya diplomasi dinilai menghadapi tantangan besar, terutama karena rendahnya tingkat kepercayaan Iran terhadap AS serta belum jelasnya pihak yang memiliki otoritas penuh untuk bernegosiasi di Teheran.
“Kami memiliki pengalaman yang sangat buruk dengan diplomasi AS,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei.
Dengan korban jiwa yang terus bertambah, yakni lebih dari 1.500 orang di Iran, 16 di Israel, serta korban di wilayah lain, tekanan internasional untuk segera mencapai gencatan senjata semakin meningkat. Namun, hingga kini, jalan menuju perdamaian masih dipenuhi ketidakpastian.
Ketegangan ini berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent sempat mendekati US$ 120 per barel sebelum turun ke kisaran US$ 100 seiring munculnya harapan gencatan senjata. Meski demikian, harga tersebut masih melonjak hampir 40% sejak awal konflik.















