JAKARTA-LIPUTANBERITA7. Hingga saat ini, Kim belum merespons tawaran dialog dari Donald Trump. Para pakar, termasuk mantan Presiden Universitas Studi Korea Utara, Yang Moo-jin, menilai Pyongyang masih menunggu langkah nyata Washington untuk meninggalkan “kebijakan permusuhan” sebelum bersedia kembali ke meja perundingan.
Meskipun membuka pintu diskusi, Kim Jong Un tetap mempertahankan “sikap paling keras” terhadap kebijakan luar negeri AS. “Jika AS menarik kebijakan konfrontasinya dengan menghormati status negara kami saat ini, tidak ada alasan mengapa kami tidak dapat bergaul dengan baik dengan AS,” tutur Kim.
Pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, secara tegas menyatakan komitmennya untuk memperluas persenjataan nuklir negara tersebut. Dalam laporannya pada Kongres Kesembilan Partai Buruh, Kim menekankan bahwa prospek perbaikan hubungan antara Pyongyang dan Washington sepenuhnya bergantung pada perubahan sikap Amerika Serikat (AS).
Melansir laporan media pemerintah KCNA pada Kamis (26/2/2026), rangkaian Kongres yang berlangsung selama satu pekan tersebut ditutup dengan parade militer megah di ibu kota Pyongyang. Kim Jong Un menyebut bahwa posisi internasional Korea Utara telah meningkat drastis seiring dengan penetapan target kebijakan strategis untuk lima tahun ke depan.
“Merupakan tekad kuat partai kami untuk lebih memperluas dan memperkuat kekuatan nuklir nasional kami, dan sepenuhnya menjalankan status kami sebagai negara nuklir,” ujar Kim sebagaimana dikutip dari KCNA.
Ia menambahkan bahwa fokus utama saat ini adalah meningkatkan jumlah hulu ledak serta memperluas sarana operasional nuklir.
Berdasarkan data lembaga Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Korea Utara diperkirakan telah memiliki sekitar 50 hulu ledak dengan bahan fisil yang cukup untuk memproduksi 40 unit tambahan.















