JAKARTA, LIPUTANBERITA7.COM. Merespons tekanan Washington, Teheran mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara tetangga agar tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan sebagai pangkalan serangan AS.
“Negara-negara tetangga kita adalah teman kita, tetapi jika wilayah darat, udara, dan laut mereka digunakan untuk melawan Iran, negara-negara ini akan dianggap sebagai musuh,” ujar Mohammad Akbarzadeh, perwira politik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Iran juga mengumumkan latihan militer tembak langsung di dekat Selat Hormuz pada 27-29 Januari, serta menetapkan wilayah udara tersebut sebagai zona terbatas dan berbahaya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengerahan armada militer tambahan ke dekat wilayah Iran. Langkah ini menyusul kehadiran Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln yang telah lebih dulu beroperasi di Timur Tengah di tengah meningkatnya tensi geopolitik kedua negara.
Dalam sebuah acara di Clive, Iowa pada Selasa (27/1/2026), Trump menyebut ada “armada indah” lainnya yang sedang menuju Iran. Ia berharap kehadiran kekuatan militer ini akan memaksa Teheran untuk mencapai kesepakatan baru.
Trump juga mengeklaim bahwa serangan udara AS pada Juni 2025 telah berhasil melumpuhkan kemampuan nuklir Iran. “Orang-orang telah menunggu selama 22 tahun untuk melakukan ini, dan akhirnya kita berhasil. Mereka hanya tinggal satu bulan lagi untuk mampu membangun senjata nuklir. Kita harus melakukan ini,” tegas Trump.
Meski demikian, para ahli militer masih memperdebatkan tingkat kerusakan sebenarnya, sementara Teheran bersikeras bahwa program mereka tetap berjalan dan bertujuan damai.















