Jakarta, Liputanberita7. Wilayah Lebanon Selatan kembali membara sejak awal Maret 2026 setelah baku tembak antara Hizbullah dan IDF meningkat. Hal ini memicu serangan ofensif baru di sepanjang garis demarkasi yang dipantau oleh PBB.
Berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, hanya UNIFIL dan militer Lebanon yang diizinkan beroperasi di wilayah selatan. Namun, pelanggaran terus terjadi di tengah klaim Israel bahwa Hizbullah membangun kekuatan di dekat perbatasan.
Dilansir dari Beritasatu.com, Misi perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) mengonfirmasi seorang penjaga perdamaian gugur setelah sebuah proyektil meledak di pos jaga dekat desa Adchit al-Qusayr, Lebanon Selatan, Minggu (29/3/2026).
Sementara itu, pihak militer Israel (IDF) saat dikonfirmasi oleh media terkait insiden ini menyatakan sedang melakukan penyelidikan internal. Area Adchit al-Qusayr sendiri merupakan titik panas pertempuran antara pasukan Israel dan kelompok Hizbullah.
Satu petugas penjaga perdamaian lainnya kini dalam kondisi kritis. UNIFIL menyatakan tengah melakukan investigasi mendalam untuk menentukan asal-usul proyektil yang menghantam posisi pasukan Garuda tersebut.
“Kami belum mengetahui asal proyektil tersebut. Penyelidikan telah diluncurkan untuk menentukan semua keadaan yang terjadi,” tulis pernyataan resmi UNIFIL, Senin (30/3/2026).
Pemerintah Indonesia bereaksi keras atas insiden ini. Indonesia menegaskan bahwa segala bentuk serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak dapat diterima dan kembali mengecam eskalasi militer di wilayah tersebut.
UNIFIL kembali menyerukan kepada semua pihak untuk menjunjung tinggi hukum internasional. Keselamatan personel PBB harus menjadi prioritas dan semua pihak diminta menahan diri dari tindakan yang membahayakan pasukan perdamaian.
“Tidak seorang pun boleh kehilangan nyawanya dalam melayani tujuan perdamaian,” tegas pihak UNIFIL dalam pernyataan resminya.















