JAKARTA, LIPUTANBERITA7.COM. Presiden Trump sebelumnya telah memperingatkan Teheran untuk menghentikan kekerasan terhadap demonstran dan mengancam akan melakukan intervensi. Namun, pekan lalu Trump sempat melunakkan retorikanya dengan menyebut bahwa Iran “ingin berbicara,” yang memberi sinyal adanya peluang diplomasi.
“Kami siap melayani seperti yang mereka katakan. Jadi, jika mereka ingin menghubungi kami dan mereka mengetahui persyaratannya, maka kami akan berdiskusi,” ujar seorang pejabat AS pada Senin (26/1/2026).
Gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan telah memasuki perairan Samudra Hindia. Posisi ini menempatkan armada tempur Amerika Serikat (AS) tersebut pada jarak yang lebih dekat untuk mendukung operasi militer yang berpotensi menargetkan Iran, menurut laporan sumber internal yang dikutip dari CNN, Selasa (27/1/2026).
Saat ini, kelompok tempur tersebut berada di bawah kendali Komando Pusat AS (Centcom), yang mencakup wilayah operasi militer di Timur Tengah. Meski demikian, kehadiran kapal induk ini belum menjadi posisi final bagi rencana serangan apa pun. Presiden Donald Trump dikabarkan terus mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran, walaupun belum ada keputusan resmi yang diambil.
Merespons pergerakan militer AS, Republik Islam Iran mulai memanaskan mesin perangnya. Di Teheran, sebuah mural raksasa diresmikan di Lapangan Revolusi yang menggambarkan kawanan jet tempur terbang di atas kapal perang berbendera AS sebagai simbol tantangan.
Dalam khutbah Jumat di ibu kota, imam Mohammad Ali Akbari memberikan peringatan keras kepada Washington. “Satu triliun dolar yang Anda investasikan di wilayah ini berada di bawah pengawasan rudal kami,” tegasnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa kehadiran kapal induk AS tidak akan memengaruhi tekad pertahanan negaranya. Ia mengklaim militer Iran saat ini lebih kuat, terutama setelah perang 12 hari dengan Israel pada Juni lalu yang meningkatkan efisiensi rudal dan drone mereka.















