Jakarta, Liputanberita7. Komando Pusat AS (Centcom) secara khusus telah meminta pengerahan sistem Dark Eagle, yang juga dikenal sebagai Long-Range Hypersonic Weapon (LRHW). Senjata ini memiliki kemampuan luar biasa untuk melesat lebih dari lima kali kecepatan suara (Mach 5) dan dapat bermanuver di atmosfer atas untuk menghindari sistem pertahanan udara musuh.
“Kemampuan ini sangat krusial mengingat Teheran telah memindahkan peluncur rudal balistiknya ke wilayah pegunungan yang berada di luar jangkauan sistem rudal standar AS,” tulis Dailymail, Sabtu (2/5/2026).
Pengerahan rudal senilai 30 juta pound sterling per unit ini bukan hanya soal taktik militer, tetapi juga masalah gengsi geopolitik. Selama ini, AS dianggap tertinggal dalam perlombaan senjata hipersonik setelah Rusia mengerahkan rudal Kinzhal dan China memamerkan DF-17. Jika disetujui, ini akan menjadi debut tempur pertama bagi Dark Eagle sekaligus pembuktian bahwa Washington telah mampu menandingi kemampuan strategis para pesaing utamanya.
Iran sendiri tidak tinggal diam menghadapi ancaman serangan baru ini. Pemimpin Agung Ayatollah Mojtaba Khamenei memberikan pesan tertulis yang sangat keras, menyatakan bahwa Teheran akan memberikan balasan yang “panjang dan menyakitkan” terhadap posisi-posisi AS. Iran menegaskan tekadnya untuk tetap menguasai Selat Hormuz dan tidak akan membiarkan pihak asing mengontrol jalur perairan tersebut.















